| SEJARAH SEKOLAH PR |
|
|
|
|
PERGURUAN KEBANGSAAN (NASIONAL) PERGURUAN RAKYAT .
Oleh
Mr. H. SUTAN M. RASJID Pada Peringatan HUT Perguruan Rakyat ke-50
1. Lima puluh tahun atau setengah abad yang lalu lahirlah suatu perguruan kebangsaan, bernama Perguruan Rakyat.
Pada akhir tahun duapuluhan dan permulaan tahun tiga puluh, kata KEBANGSAAN ATAU NASIONAL, menjadi hamper sama artinya dengan arti “MERDEKA” pada waktu kita mengalami Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Bukankah Partai Nasional Indonesia (PNI) didirikan pada 4 Juli 1927, pakaian Nasional IndonesiaBukankah Partai Nasional Indonesia (PNI) didirikan pada 4 Juli 1927, pakaian Nasional atau Swadeshi, 3 semboyan Nasional dr Ir. Soekarno; Semangat Nasional, Kemauan Nasional dan Tindakan Nasional, menjadi ucapan-ucapan sehari-hari waktu itu ?
Sejalan dengan hal tersebut muncul pula perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) atau De Indonesise Studenten Unie, juga perhimpunan Indonesia di negeri Belanda yang terlebih dulu berdiri, idealis-idealis dari PPPI seperti Sugondo Djojopuspito, Muhamad Yamim dan lain-lain pemimpin. Kongres Pemuda Indonesia kedua (Kongres Pemuda ke I tahun 1926) pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di gedung Kramat 106, Jakarta yang sekarang bernama GEDONG SUMPAH PEMUDA, sebagai hasil rumusan mahasiswa, Yamim, lahirlah triologi : SATU BANGSA, SATU TANAH AIR dan SATU BAHASA, yang di terima oleh kongres pada tanggal 28 Oktober1928 dan sekarang terkenal dengan nama SUMPAH PEMUDA.
2. Empat puluh empat hari sesudah Sumpah Pemuda lahir, berdirilah PERGRUAN NASIONAL, PERGURUAN RAKYAT di bawah pimpinan Mr. Dr. MOHAMMAD NAZIEF, tepatnya tanggal 11 Desember 1928. Mr. Nazief pegawai tinggi pemerintahan jajahan Belanda, tamatan Universitas Leiden dan bekas anggota redaksi Perhimpunan Indonesia yang banyak mengarang dalam majalah P.I. “INDONESIA MERDEKA” mempunyai keberanian moreil dan di sokong Nasional-nasionalis Indonesia lainnya seperti Mr. Soenario, juga tamatan Universitas Laiden, Arnold Mononutu, mahasiswa sastra Perancis di negeri Belanda, Sudarmo Atmodjo, NjonoPrawoto, kemudian terkenal dalam pimpinan Partindo, Mr. Sartono; Moh. Husni Thamrin dan Koesoemo Oetojo, yang semuanya menjadi PENGURUS PERTAMA dan PERGURUAN RAKYAT.
3. Berbahagialah bangsa Indonesia waktu itu yang mempunyai putra-putri pengambil prakarsa mencetuskan rasa KEBANGSAAN atau NASIONALISME di kalangan PENDIDIKAN yang sebelumnya didahului oleh Ki Hadjar Dewantoro (Soewardji Surjaningrat) dengan mendirikan TAMAN SISWA tahun 1923, Mohammas Syafe’I dengan INS-nya (Indonesise Nederlandse School) berdiri tahun 1926 di Kayu Tanam, kedua-duanya kemudian menjadi Menteri Pendidikan & Kebudayaan, KSATRIAN INSTITUT dari Dr. Douwes Dekker alias Setia Budi dan lain-lain. Sekolah MUHAMMADIYAH yang bersifat sosial juga di sebutkan di sini, karena juga kemudian menonjolkan rasa kebangsaan dan Agama di sekolah-sekolahannya. 4. Karangan sederhana ini kami tunjukan kepada penganjur-penganjur PERGURUAN RAKYAT yang telah berjasa menanamkan dan meniup-niupkan rasa KEBANGSAAN ATAU NASIONALISME PADA AKHIR TAHUN 1920-an itu, karena tiap-tiap tindakan putra-putri Indonesia yang berani melawan politik penjajahan (colonial) Belanda PADA WAKTU ITU AKAN MENGHADAPI KERUSUHAN-KERUSUHAN dan resiko ditangkap. Dengan bertaburnya sekolah-sekolah partikelir diseluruh Nusantara pada permulaan tahun 1930 itu : baik yang berdasarkan Kebangsaan atau Nasionalisme maupun yang berdasarkan Sosial dan Agama, Pemerintah colonial Belanda merasa terancam kedudukannya karena Belanda walau telah mendirikan sekolah-sekolah untuk bumiputra, tetapi sekedar hendak mendidik menjadi pegawai rendah dan menengah, merasa takut gerakan-gerakan Kebangsaan atau akan lebih pesat JALANNYA DENGAN PENDIDIKAN NASIONAL ITU.
5. Dengan ditangkapnya pemimpin-pemimpin Indonesia di akhir tahun 1930, terutama Ir. Soekarno dkk, PERGERAKAN NASIONAL TIDAK MENJADI MUNDUR, tetapi maju terus, PNI DIBUBARKAN, TETAPI PARTINDO (PARTAI RAKYAT INDONESIA) berdiri disusul dengan PNI PENDIDIKAN dibawah pimpinan Syahrir dan kemudian oleh Hatta, maka tanggal 1 April 1933, PEMERINTAH KOLONIAL BELANDA MENGELUARKAN WILDE SCHOOLEN ORDONANTIE (Ordonasie Sekolah Liar) yang menutup sekolah-sekolahpartikelir (sekarang swasta namanya) dan menahan guru-guru yang dicurigai.
Kita betul-betul beruntung pemimpin-pemimpin kita waktu itu yang tersebut diatas sejak dari pimpinan Taman Siswa, INS, Muhammadiyah, Thawalib dan Diniyah di Padang Panjang dibawah Pimpinan Nyonya Rahmah El Yunusiah sampai pada pimpinan Perguruan Rakyat MEMBANGKAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMERINTAH JAJAHAN ITU. Degan keluarnya larangan berserikat dan berkumpul (Vergadeverbod) tahun itu juga, disusul dengan penangkapan lagi terhadap diri Ir. Soekarno akhir tahun 1933 dan tertangkapnya Hatta dan Syahrir serta sejulah pimpinan-pimpinan lainnya pada bulan Februari 1934, PERGERAKAN DAN PERGURUAN NASIONAL MENGALAMI PASANG SURUT. Kekurangan tenaga-tenaga guru ditambah dengan tekanan-tekanan dan ancaman-ancaman dari pihak Polisi reserse Belanda, seakan-akan putuslah harapan meneruskan Pendidikan Nasional, tetapi seperti kata pepatah “Patah tumbuh, hilang berganti”, pada permulaan tahun 1934 MAHASISWA-MAHASISWA dari Perguruan Tinggi Rechschoolgeschool (Sekolah Hukum Tinggi) dan Geneeskunidge Hoogeschool (Sekolah Tinngi Kedokteran) di Jakarta, mengambil/mengganti tempat guru-guru yang disingkirkan itu. Nama-nama Amir Syarifuddin, Juanda, Wilopo ketiga-tiganya kemudian menjadi Perdana Menteri RI; Sumanang; Hendro martono, kedua-duanya kemudian menjadi menteri dan lain-lain mahasiswa dari Fakultas Hukum dan Kedokteran, menjadi pelopor baru dari Perguruan Nasional Perguruan Rakyat.
6. Secara kronologis dinyatakan di sini, bahwa sejak berdirinya tanggal 11 Desember 1928 sampai saat ini, sesudahj berdiri setengah abad Perguruan Rakyat dipimpin oleh : Dr. Mr. Moh. Nazief, Arnold Mononutu, Sugondo Djojopoespito, Mr. Wilopo, Drs. Abdul Gani, Ali Marsaban, Brigjen (Purn) Latief Hendraningrat dan pada saat itu dipimpin oleh oleh penulis karangan ini, Mr. H. Sutan Moh. Rasjid. Untuk Lengkapnya sebagai fakta sejarah, mahasiswa-mahasiswa yang menerjunkan diri membantu untuk mengajar di Perguruan Rakyat , sesudah keluarnya Ordonansi sekolah liar itu, ialah : dari Fakultas Hukum Tinggi : Latief Hendraningrat, Muhammad Rasjid, Samyono dan lain-lain dari Fakultas Kedokteran Tinggi; Sayono dan Lain-lain. 7. Angkatan sekarang lebih-lebih angkatan-angkatan yang akan datang hanya akan mendengar dan membaca nama-nama dan penganjur-penganjur kita itu, tetapi mereka akan tetap menjadi suri tauladan dalam menjalankan cita-cita untuk memerdekakan bangsa Indonesia melalui bidang pendidikan. Jangan ditanya imbalan yang didapat mereka waktu itu, hanya terdorong idealisme yang tinggi untuk ikut membantu rakyat JELATA YANG HAUS PENDIDIKAN, MEREKA MENERJUNKAN DIRI MENGORBANKAN WAKTU MEREKA MENGAJAR MURID-MURID Perguruan Rakyat waktu itu, ditambah dengan segala resiko yang mesti diambil untuk mengahadapi tingkah laku polisi-polisi rahasia Belanda.
8. Perjoangan kemerdekaan telah dirintis oleh nenek moyang kita seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Sisingamangaraja, Teuku Cik Ditiro, Hasanuddin, Pattimura dan lai-lain. Walaupun mereka belum berhasil menumpas keganasan penjajah Belanda, mereka telah meletakkan dasar-dasar untuk menghancurkan kolonialisme Belanda.
9. Secara agak modern dengan berdirinya BUDI UTOMO dibawah pimpinan Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908, sekarang terkenal dengan nama periode KEBANGKITAN NASIONAL, DISUSUL DENGAN gerakan-gerakan Serikat Islam, di bawah pimpinan Haji Samahudi, diteruskan oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Sangadji dan lain-lain yang semuannya berbakti untuk tanah air dan bangsa, maka dengan MUNCULNYA PERGERAKAN YANG LEBIH MODERN DENGAN ARTI PERJOANGAN INTELEK BELANDA DI LAWAN OLEH PERJOANGAN INTELEK INDONESIA di negeri Belanda dibawah pimpina berturut-turut Dr. Sukiman, Achmad Subardjo, Mohammad Hatta dan lain-lain dengan majalahnya yang terkenal dengan nama “INDONESIA MERDEKA” di Indonesia di bawah pimpinan Ir. Soekarno, Dr. Soetomo, Moh Husni Thamrin di bantu oleh tenaga-tenaga akademisi yang baru kembali dari negeri Belanda seperti Mr. Sartono, Mr. Iskak, Mr. Soenario, Ir. Abutari, Dr. Samsi didorong oleh pemuda-pemuda pelopor yang bergabung dalam perhimpunan pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) dengan majalahnya “INDONESIA RAYA”, maka lahirlah Sumpah Pemuda yang sepeti telah disebutkan di atas. 10. Pergerakan Modern Nasional Ondonesia betul-betul bertujuan mencapai Indonesia MERDEKA “SEKARANG” yang memuncak SESUDAH PERANG DUNIA KEDUA DENGAN LAHIRNYA INDONESIA MERDEKA PADA tanggal 17 Agustus 1945.
11. Dengan sumbangan yang pendek ini, kita ikut memberikan penghormatan kepada segenap penganjur pergerakan Nasional dan penganjur-penganjur Perguruan Rakyat yang telah mengantarkan rakyat Indonesia ke pintu gerbang Kemerdekaan Indonesia. Sebagai penutup diajukan pertanyaan disini kalau Perguruan Rakyat didirikan 50 tahun yang lalu IALAH SEMATA-MATA UNTUK MENGHANTAM PENJAJAHAN BELANDA, SEKARANG TELAH MERDEKANNYA KITA LEBIH dari 33 tahun, APAKAH JUSTIFICATION (RECHTVAARDIGING) waktu mendirikan Perguruan Rakyat tidak sudah berubah UNTUK MENERUSKAN KELANGSUNGAN HIDUP PERGURUAN RAKYAT. Dengan telah tercapainya kemerdekaan Negara dan bangsa, maka tujuan Perguruan Rakyat tercapai pula. Dalam hubungan ini apakah tidak lebih baik untuk dipikirkan MENYERAHKAN SEGENAP SEKOLAH-SEKOLAH PERGURUAN RAKYAT yang berjumlah sebelas buah dengan murid kira-kira 2800 orang dan guru-guru serta tenaga adminitrasi sebanyak 180 orang, kepada pemerintah kita sendiri, yaitu PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA ? 12. Sebagai kata terakhir kepada segenap instansi pemerintah khusunya kepada Sdr. Dr. Daoed Joesoef, Menteri Pendidikian & Kebudayaan, Sdr. Gubernur DKI Jakarta, Letjen TNI Tjokro Pranolo dan semua kawan, handai dan tolan, alumni Perguruan Rakyat, ya segenap karyawan Perguruan Rakyat yang memungkinkan terbitnya buku peringatan 50 tahun berdirinya Perguruan Rakyat, sekali lagi atas nama Dewan Pengurus Perguruan Rakyat kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tidak terhingga. Semoga Allah SWT memberi ganjaran dengan sepatutnya atas semua amal jariah yang diberikan itu. Amien.
Jakarta, Akhir September 1978
MENGENANGKAN BERDIRINYA PERGURUAN RAKYAT DAN LATAR BELAKANGNYA
Oleh
PROF. MR. SUNARIO
Jika kami mengenagkan kembali segala apa yang telah terajdi semenjak ikut mulai ikut berjuang dalam “Perhimpunan Indonesia” di negeri Belanda, dan kemudian di Indonesia sendiri setelah memperoleh gelar “Mr” pada 15 Desember tahun 1925 di Universitas Laiden, maka peristiwa-peristiwa yang ikut kami alami dan hayati itu seakan-akan merupakan kaleidoskop dengan bermacam-macam warna-warni yang serba elok dan saling berganti.
Dan jika kita sekarang ini melihat dari jarak jauh kebelakang dalam sejarah kita masing-masing yang pernah menjalankan peranan, besar atau kecil, dalam Perjoangan itu, maka seolah-olah lenyaplah apa yang terasa dahulu itu sebagai kesukaran dan penderitaan pribadi delam segala rupa bentuk. Sehingga tinggallah kenang-kenangan mengenai hasil-hasil yang menggembirakan dalam hati, bahkan yang membahagiakan. Bukanlah setiap perjoangan meminta pengorabanan secara ikhlas, (Dalam bahasa Jawa : “jer basuki mawa beya”), sedang perjoangan kita itu tak lain semata-mata demi keselamatan bangsa dan tanah air. Terutama sekalai untuk melepaskan Indonesia dari kesengsaraan di bawah penjajahan asing, penjajahan Belanda. Untuk mencapai tujuan ini kita mengerti dengan sadar bahwa yang menjadi syarat mutlak supaya kita dapat menjadi merdeka dan untuk dapat membangun selanjutnya adalah kesatuan Indonesia dalam wilayah “Hindia Belanda” dahulu itu. Ini sajalah yang menjadi cita-cita kita, yang merupakan satu-satunya jawaban terhadap politik “devide et empire” dari Belanda. Karena di samping terasa emosional bahwa tentu lebih senang seklai jika dapat memiliki tanah air dan Negara yang besar seperti di zaman Sriwijaya dan Majapahit dahulu itu, maka secara rasional dan realists tepat sekali, bunyi semboyan kita yang baru yakni; “Bersatu kita teguh, bercerai kita jatuh”! suatau semboyan yang terus masih tetap berlaku sampai hari ini juga.
Pegangan ilmiah mengenai makna “Bangsa” dan “Kebangsaan” di tahun-tahun itu yang sangat kita setujui ialah teori Ernest Renan yang dalam pidatonya di Universitas Sorbonne (Paris) pada tahun 1882 mengupas masalah itu yang kemudian cepat menjadi mashur di mana-mana, karena di anggap sangat cepat. Karena, bagaimanapun juga, berdasarkan bahan-bahan sejarah tak dapat disangkal, bahwa kemudian timbulnya “Bangsa” (nation) yang mampu mendirikan suatu “Negara kebangsaan” (nation state) sendiri berdasarkan “hak bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri” (national self determination) tak lain ialah: keinginan untuk hidup bersama (ledesir de vivre d’tre ensemble) secara permanent. Ini disebabkan oleh karena oleh segolongan besar manusia telah di hayati bersama-sama segala rupa suka dan duka dalam waktu yang lampau, terutama duka (seperti dalam keadaan kita: dijajah bangsa asing yang berlansung berabad-abad lamanya itu). Teori inilah yang menjadi pedoman pemuda-pemuda kita untuk perjoangan kita bersama semenjak dalam “Perhimpunan Indonesia” di negeri Belanda. Bagaimanapun pentingnya factor-faktor lain (yang bersifat “obyektif”) yang mungkin telah terdapat sebagai milik bersama sesuatu golongan besar rakyat, seperti “ras” dan lain sebagainya, tetapi yang selalu menentukan ialah ada atau tidak unsure “subyektif” yang satu itu, yakni “keinginan untuk hidup bersama” tadi yang menimbulkan juga perasaan “senasib dan sepenanggungan”. Tokoh-tokoh Belanda pun banyak menjadi yakin tentang hal itu, termasuk Prof. Snouck Hurgronje dan Leiden sekitar tahun 1920-an. Oleh karena itu tepat sekali apa yang ditegaskan oleh Bung Hatta dalam pidato pembelaanya tanggal 9 Maret dimuka pengadilan di Den Haag yang berjudul “Indonesia vrij” (Verspriede geschriften hal. 273), bahwa “Als de Indonesische eenheids gedachte een gemeengoed is geworden, dan is de Indonesische natie geboren. Dit proces te verhaasten is de taak van de Perhimpunan Indonesia”. (Jika gagasan persatuan Indonesia itu telah menjadi milik bersama, pada waktu itu telah lahir bangsa Indonesia – (Mempercepat proses inilah yang menjadi tugas perhimpunan Indonesia). Memang dalam kalimat terakhir inilah tersimpul rasio (akal sehat) yang menggerakan pemuda kita untuk berjuang, khusunya mereka yang telah sadar tentang panggilannya di zaman modern ini. Oleh karena ini pula penting juga cita-cita kerakyatan (demokrasi) yang memantapkan persatuan bangsa secara “vertical”, sehingga selain “non-koperasi” terhadap penjajah, juga di anjurkan “massa-aksi”.
Maka apakah saja yang nampak dengan cemerlang pada waktu yang lampau dalam “kaleidoskop” yang sebut tadi? Masing-masing kita tentu saja dapat menunjukkan apa yang ia sendiri alami dan rasakn sebagai hasil perjoangan nasional.
Kami sendiri kiranya boleh menyebut beberapa peristiwa:
1. Tidak lama setelah kembali ke Indonesia dari negeri Belanda (Juli 1926) kam di Bandung memasuki pergerakan kepanduan NPO (Nationale Padvinders Organisatie) untuk lebih menasionalkan secara tegas kepanduan kita itu dan mewajibkan supaya menjadi merah putih dipakai oleh semua pandu dan pemimpin-pemimpinnya. Di antara mereka yang paling muda terdapat serang murid MULO (SMP) yang bernama A.Latief Hendraningrat.! 2. Bersama dengan Ir. Soekarno, Mr. Sartono, Mr. Budiarto, Dr. Samsi dan lain-lain, kami mendorong pemuda-pemuda dari THS (Technische Hogeschool) dan sekolah-sekolah menengah. Di Bnadung untuk mendirikan perkumpulan “Yong Indonesia” yang bercita-cita seperti “Perhimpunan Indonesia” di negeri Belanda (20 Februari 1927, baca Moh. Hatta, Verspreide Geschriften hal. 270). Perkmpulan pemuda inilah yang tidak seperti Jong Java dan lain-lain, telagh berdiri atas “unitarisme” Indonesia yang pada kongres pertamannnya pada bulan Desember 1927 mengubah namnya menjadi “Pemuda Indonesia”, bahkan memutuskan pula untuk memakai bahasa Indonesia (Melayu) sebagai bahasa hariannya (Voertaal”-nya). Perkumpulan pemuda ini pulalah yang bersama dengan PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) yang berpusat di Jakarta, dengan Sdr. Abdullah Sigit sebagai ketua pertama yang kemudian di ganti oleh Sdr. Sugondo Djojopuspito, merencanakan supaya diadkan kongres pemuda Indonesia ke II (27-28 Oktober 1928) yang menghasilkan “Sumpah Pemuda” itu . Kepaduannya berfusi dengan NPO tersebut, sehingga menjadi INPO (Indonesische Nationale Padvinders Organisatie) yang kami pimpin juga. (Baca pemuda Indonesia, Congresnumer, Januari-Februari 1928). 3. Bersama-sama dengan Ir. Sukarno, Ir. Anwari, Mr. Iskak, Mr. Sartono Mr. Budiarto, Dr. Samsi ditambah dengan saudara-saudara Sudjadi dan J. Tilaar kami ikut menderikan PNI (Partai Nasional Indonesia), juga di Bandung, pada 4 Juli 1927. cita-citanya tidak berbeda dengan cita-cita perhimpunan Indonesia yang kebetulan sekali sesuai cita-cita Bung Karno, sebagaimana di tegaskan oleh Bung Karno sendiri dimuka pengadilan (Landraad) di Bandung dalam 1930 (lihat sejarah pergerakan Indonesia 1929-1930, II, hal 6, baca juga Moh. Hatta, Verspriede Geschriften, hal 270). PNI sebagaimana kita ketahui besar sekali pengaruhnya dalm pergerakan kenerdekaan Indonesia, termasuk pergerakan pemuda (PPPI dan lain-lain). 4. Di adakan kongres pemuda Indonesia (27-28 Oktober 1928) di Jakarta tersebut di bawah pimpinan Sdr. Sugomdo, ketua yang ke-2 dari PPPI, yang seperti Sdr. Abdullah Sigit adalah mahasiswa Rechtshogeschool di Jakarta (Sdr. Sugondo sedikit lebih muda, sedang Sdr. Abdullah Sigit lebih tua dari kami). Disitu juga terdapat saudara-saudara. Suwirjo, Djaksodipuro (Wong sonegoro), Sunarko, Amir Sjarifudin, dan lain-lain (dari catatan Sdr. Sugondo). Memang terdapat beberapa mahasiswa RH yang didirikan pada 1024, yang emnjalankan peranan yang penting dalam usaha tersebut, seperti pada tahun 1908 palajar-pelajar dari sekolah kedokteran – Stovia – dalam mendirikan “Budi Utomo” yang di usul oleh Sarikat Sumatra, dan lain-lain, dan kemudian oleh “Tri Koro Dharmo” (1915) yang semenjak 1918 bernama “Yong Java”. Secara terang-terangan Sdr. Abdullah Sigit yang dari 1924-1025 masih menjadi ketua Jong Java dalam catatannya yang satu kopinya tersimpan pada kami, menulis antara lain: “Akan tetapi pergaulan dengan Bung Karno, Anwari, Iskak, Samsi, Sartono dan Sunario – emapat saudara yang terakhir ini baru saja kembali di negeri Belanda menginsafkan kami, bahwa jaman keemasan dari Jong Java sudah lampau. Isi adri majalah Indonesia merdeka dan “Gedenboek” (1908-1923). Perhimpunan Indonesia membuka dunia baru bagi kami dengan teman-teman, misalnya saudara Boediono (yang pada tahun 1926 masih bersekolah di AMS di Bandung dan menjadi pemuda juga dari NPO (pen)dan seterusnya.” Sdr. Abdullah Sigit ini kemudian tidak kecil perannya dalam “Perguruan Rakyat”, sebagaimana juga nampak dalam uraiannya dalam catatannya tersebut (lihat di bawah). Di bawah tahu 1928 kami pindah dari Bandung ke Jakarta dan bekerja disini sebagai adpokat muda (berumur 26 tahun) bersama dengan Mr. Sartono dan Budiarto. Oleh karena kami masih muda, kami bersedia memimpin federasi Kepanduan nasional “Persaudaraan antara pandu-pandu Indonesia”(PAPI) bersama Sdr. Moh. Roem sebagai sekertarisnya, tetapi juga masih ingin memperdalam dalam pengetahuan kami di bidag ilmu ekonomi, sehingga kami lalu mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di RH, khusus untuk mata kuliah di bidang itu (di bawah Prof. Boeke, kemudian Prof. Van Gelderen). Di situlah kami banyak bergaul dengan teman-teman pemuda lain, seperti Sdr. Sugondo dan lain-lain. Selain dari mereka yang telah kami sebutkan diatas, datanglah kembali juga dari negeri Belanda Sdr. Mr. Moh. Nazief dan Sdr. Arnold Mononutu yang sangat memperkuat barisan kami. Pergaulan kami memang erat sekali, sehingga berhasil menyusun serupa suatu “brainstrust” untuk mempersiapkan Pongres Pemuda II (yang ke I telah berlangsung di bulan April/Mei 1926, sewaktu kami masih di Eropa, tetapi yang belum mencapai suatu hasil yang memuaskan dalam bidang mempersatukan pemuda kita). Dalam “brainstrust” itu terdapat Sdr-sdr Moh. Nazief, Arnold Mononutu, Mr. Sartono dan kami, semua belum kawin, begitu pula mahasiswa-mahasiswa Amir Sjarifudin, Sunarko, Moh Yamin dan Abdullah Sigit (Baca Peranan Gedung Kramat Raya 106, 1973, hal 32). Karena Mr. Sartono sebelum di buka kongres tersebut kebetulan berada di luar Jakarta, maka kami yang membela tujuan kongres itu terhadap wakil pemerintah kolonial, Mr. Dr. Ir. Kiwiet de Jonge, agar supaya terus dapat diadakan (wawancara wakil Perguruan Rakyat dengan Sdr. Mononutu), dan Kongres akhirnya dapat berlangsung. Meskipun juga dalam beberapa pembatasan, sehingga misalnya pawai pandu-pandu PAPI tidak dapat di teruskan, kongres sangat berhasil dengan di cetukasnya “Sumpah Pemuda” yang termashur itu (28 Oktober 1928 Indonesia Clubgebouw IC – Kramat Raya no. 160, Jakarta). Dalam kongres itu Sdr. Moh. Yamin dengan suara berkobar-kobar mengemukakan pendapatnya yang intinya berkisar pada kesatuan bangsa Indonesia dengan menyetujui teori Ernest Renan tersebut. Mr. Sartono yang telah kembali lagi ke Jakarta secara pedas mengecam politik pemerintah kolonial. Kami sendiri pembicara terakhir pada malam tanggal 28 Oktober 1928 itu (sebelum di ambil keputusan oleh kongres) dalam ceramah kami uraikan tentang pentingnya nasionalisme, patriotisme dan demokrasi Indonesia dan mengemukakan pula tentang faedahnya kepanduan (sekarang disebut “kepramukaan”) (teks dan inti sarinya terdapat surat-surat kabar Darmo Kondo 1/6 Nop. Dan Fadjar Asia 3 November 1928). Maka nyatalah, bahwa “Sumpah Pemuda” itu merupakan suatu peningkatan dari “Kebangkitan Nasional” dari 1908 (20 tahun sebelumnya) yang masih berdasarkan kebangsaan regional-kepulauan, dan masih bersifat kebangsaan-kebudayaan sedangkan “Sumpah Pemuda” menjadi dasar politik-historis yang kokoh untuk kemerdekaan kita. Artinya kemerdekaan kita. Artinya kemerdekaan untuk seluruh Indonesiadan bangsa kita (“dari Sabang sampai Marauke”) yang berhasil di proklamirkan 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945 dengan sekaligus di ciptakannya UUD kita (18 Agustus 1945). UUD kita dalam pasal 1 menentukan secara logis bahwa Negara kita adalah Negara Negara kesatuan yang berbentuk Republik dan berkedaulatan Rakyat, serta bersifat Negara hukum. Ini memang sesuai dengan cita-cita sebagianterbanyak dari angkatan muda pejoang kita dari tahun 1920-1928 di jaman Subarjo-Hatta. Sangat penting pula terciptanya lagu kebangsaan kita “Indonesia Raya” oleh Sdr. WR Supratman yang di bawakan dengan gesekan biolanya di muka peserta-peserta kongres tersebut, dan diterimanya pula sekitar hari-hari yang berbahagia itu bendera merah putih sebagai bendera nasional kita (Perhimpunan Indonesia semenjak tahun 1923 telah memiliki bendera merah-putih yang berkepala kerbau hitam di tengah-tengahnya ada fotonya. 5. Akhirnya penting sekali untuk disebut: “Perguruan Rakyat” didirikan di Jakarta. Sangat besar pula artinya didirikan “Perguruan Rakyat” di Jakarta oleh kelompok bekas anggota-anggota “Perhimpunan Indonesia”, diperkuat dengan beberapa tokoh terkenal di Jakarta dan pemuda-pemuda, sebagian besar mahasiswa-mahasiswa dari R.H Inisiatif tersebut di mulai dengan dibukanya suatu “Volksuniversiteit” (malam) untuk umum pada 30 Agustus, jadi sebelum “Sumpah pemuda” “Volksuniversiteut” ini dipimpin oleh Sdr. Arnold Mononutu sebagai direkturnya. Pada 11 Desember (jadi sesudah “Sumpah Pemuda”) didirikan “Badan persatoean Pergoeroean Rakyat” yang merupakan fusi antara “Poestaka Kita” yang memiliki sejumlah buku sejarah nasional dan lain-lain yang berharga dan emjadi tempat pembacaan surat kabar dan kami yang ketahui, dengan “Persatoean oentoek belajar” yang dipimpin oleh saudara Angrosoedirdjo (dari PNI).
Badan persatuan Perguruan Rakyat tersebut dipimpin oleh sutau pengurus yang terdiri dari :
Ketua : Dr. Mr. Nazief Wakil Ketua : Mr. Sunario (kami/penulis) Sekretaris I : Arnold Mononutu Sekrearis II : Soedarmo Atmodjo (dari PNI) Bendahara : Sanoesi Martadisastra Komisaris : 1. Mr. Sartono 2. Moh. Husni Thamrin (dari kaun Betawi) 3. R.M. Koesoemo Oetojo (dari Budi Utomo)
Baik diketahui bahwa saudara-saudara Nazief, A. Mononutu, Sartono dan kami bersama-sama pernah duduk dalam pengurus “Perhimpunan Indonesi” dengan Dr. Sukiman sebagai ketua, sedang saudara Moh. Hatta, Subardjo dan Moh. Jusuf juga duduk di dalamnya (ada fotonya). Rapat pendirian tersebut di adakan di pavilion gedung sekolah Muhammadiyah di Kramat yang dipimpin oleh Saudara Sardjono yang menaryh simpati besar terhadap usaha kita. Memang cita-cita bersama dan sukses dalam pergerakan nasional bagaimana kami utarakan di atas (di bawah 1 s/d 4 tersebut) mendorong kita untuk memperhatikan pula masalah pendidikan nasional supaya didasarkan pada cita-cita kita tersebut yang bersifat Indonesia Modern, Secara konkrit khususnya atas cita-cita “Sumpah Pemuda” Benar, bahwa disini telah lama (semenjak 1922) berdiri Perguruan “Taman Siswa” yang sangat dihormati dan disegani itu, bahkan kami sendiri, bersama dengan Bung Karno dan lain-lain waktu masih di Bandung pada tahun 1927 (permulaan Juli) itu membuka “Taman Madya” (ada Fotonya) dan ikut memberi pelajaran juga disana. Kemudian di Medan pun dekat dengan Taman Siswa dan pemimpin-pemimpinnya (dan istri kami ikut mengajar disana), sedang (sekitar 1932) kemudian lagi di Makassar (Ujung Pandang) kami dan beberapa kawan ikut membuka Taman siswa di sana (ada fotonya).
Memang simpati dan Respek kami sekalian terhadap Taman Siswa lebih-lebih lagi terhadap Ki Hadjar Dewantar sendiri, pendiri dan Bapak Taman Siswa, salah satu dari “Tiga Serangkai” dari zaman “National Indische Party” (NIP) besar sekali, karena juga tak bernilaibesar jasa dan pengorbanannya terhadap Indonesia. Namun demikian , golongan kami yang terdiri dari tenaga muda yang berasal dari berbagai-bagai daerah tanah air kita, dan dengan cita-cita nasional dari Perhimpunan Indonesia merasa tidak mungkin dapat menyetujui beberapa dasar Taman Siswa yang masih banyak mengandung unsur falsafah Jawa (menurut catatan saudara Abdullah Sigit: Taman Siswa terlampau “Jawa – Centrisch”). Oleh sebab itu kita inginmencari jalan yang cepat dapat disetujui, karena lebih mudah dimengerti, oleh para pejoang dan rakyat di seluruh Indonesia, terutama yang dapat mendukung “Sumpah Pemuda”.
Denagn Taman Siswa kita dapat tetap bekerja sama secara terpisah berdasarkan saling pengertian (“gescheiden samengaan”) yang juga kita laksanakan sebaik-baiknya dalam praktek. “Volksuniversiteit” yang dimaksudkan untuk umum tersebut, dimana kami juga ikutmemeberi pelajaran (kursus) dalam hukum tatanegara dan dikunjungi oleh pemuda-pemuda (diadakan dalam gedung Muhammadiyah di Kramat), sesungguhnya merupakan permulaan dari “Perguruan Rakyat” dalam bentuk sebagaimana berkembang dan dikenal kumudian (dengan SD dan sekolah menegah dan sebagainya) dan diteruskan di gang Kenari no.15 dalam sebuah gedung besar milik bapak Moh. Husni Thamrin yang dahulu banyak dipakai untuk kongres-kongres Nasional. Kursus-kursus dalam fase pertama pada Volksuniversiteit (Perguruan Rakyat) itu diberikan pada malam hari dan meliputi bahasa Indonesia, bahasa-bahasa Asing, hukum tata Negara, sejarah dunia, sejarah Indonesia, ethnologi, memegang buku dan mengetik. Bahakan selain kursus tersebut diadakan pula ceramah-seramah dua kali seminggu dan meliputi :
1. Pendidikan oleh K.H Dewantoro dari Taman Siswa (bukti mengenai kerja sama Pergruan Rakyat dan Taman Siswa). 2. Malaria dan penyakit oleh Dr. Sardjito. 3. Journalistik dan koperasi oleh Dr. Mr. Moh. Nazief. 4. Bahasa Kawi/jawa kuno oleh Dr. Purbatjaraka.
Tetapi bagaimana selanjutnya bisa mendapat tenaga-tenaga tetap Peguruan Rakyat kita itu? Jawabanya terhadap problem yang mendesak ini diceritakan dengan kata-kata yang sederhana oleh saydara Abdullah sigit dalam “catatannya” tersebut sebagai berikut :
“Setelah saudara (Dr.) Mr. Moh. Nazief almarhun dan saudara Sumarto S.H kembali dari negeri Belanda, maka mereka di Jakarta mendirikan “Volksuniversiteit”, Perguruan Rakyat. Kepada PPPI saudara Sunario minta bantuan, oleh karena mereka kekurangan tenaga pengajar. Permintaan ini kami terima dengan segala kesenangan hati, oleh karena para guru itu akan mendapat honorium, sedang banyak sekali mahasiswa pada saat itu kekurangan uang. Sebagai ketua PPPI kami sering sekali mendengar keluh kesah mereka. Dengan jalan ini organisasi kita akan menjadi lebih kuat dan mulai beridirinya PNI mahasiswa dari PPPI telah siap sedia untuk dipergunkan sebagai pion pergerakan nasional.
Hubungan kami dengan Perguruan Rakyat tidak berlangsung sampai 3 tahun, namun kami dapat mengikuti permulaan dari pertumbuhannya dari dekat, dari dalam, sedalam-dalamnya anggota-anggota PPPI yang hidupnya tidak lebih dari ber-Senin-Kamis, dengan honorium itu bernafas agak lega. Mereka menginsafi, bahwa mereka berhutang budi kepada Perguruan Rakyat, akan tetapi mereka juga bersedia untuk membayar hutang itu dengan riba.
Kami pun menjadi guru Perguruan Rakyat untuk bahasa Belanda dan menerima honorium pula. Kami mengajar pelajaran itu karena saudara-saudara lain tidak begitu tertarik kepada vak ini. Inilah kisah salah satu pejoang mahasiswa kita di Jakarta waktu itu, yang sangat kami hormati, dan dengannya terbukalah tabir di belakang dimana namapak kehidupan idiil dan material mereka yang sangat mengharukan dan mengesankan (siapa saja mahasiswa-mahasiswa itu?). khususnya bagi kita dari keluarga besar Pergruan Rakyat baik sekali untuk mengetahuinnya.
Menurut catatan Perguruan Rakyat sendiri dalam bulan Agustus 1929 Saudara Abdullah Sigit sebagai ketua dan Arnold Mononutu serta Sugondo duduk dalam suatu panitia membentuk sekolah-sekolah dasar dam menengah (PROP, PROL, PRO dan Sebagainya) ini sesuai dengan catatan saudara Abdullah Sigit.
Sebetulnya karangankami ini dapat di akhiri disini. Sebab kira-kira pada pertengahan tahun 1929 kami pindah ke Medan sebagai Advokat (1929-1931) untuk menyertai saudara Mr. Iwa Kusumantri (satu bulan kemudian ia ditangkap dan selanjutnya di buang ke Neira), dan kemudian ke Makassar (Ujung Pandang) (1931-1940) untuk bekerja sama dengan Mr. Iskak, kedua-duanya teman seperjuangan dari PNI. Di Makasar pada tahun 1933 bersama ipar kami G.R Pantouw kami masih berhasil mebuka cabang Perguruan Rakyat disana, meskipun dengan suatu insiden. Karena ipar kami yang dimaksud akan menjadi kepalannya ditahan karena dituduh oleh Polisi Rahasia (PID )telah “melanggar” peraturan kolonial mengenai hak berserikat dan berkumpul. Setelah harus meringkuk satu malam secara gratis dalam “kurungan macan” (sebutkan di Makassar tempat tahanan kecil yang berpagar pintu besi), dengan pembelaan kami di muka “Landgerecht” ipar kami dapat dibebaskan setelah di bayar satu ringgit (F. 2,50) sebagai dendanya. Kami juga dalam perjalanan dari Medan-Makasar atau untuk suatu tujuan politik di Jawa dapat mempergunakan kesempatan itu untuk “mampir”di Perguruan Rakyat. Pertama kali di gang Kenari no 15 dimana kita melihat lebih dekat kesibukan disana waktu para guru mahasiswa mengajar, dan jika kami tidak salah ingat, juga saudara Abdullah Sigit. Dan kedua kalinya di Kramat no.174 dimana kami menumpai juga saudara A. Latief Hendraningrat yang memberi pelajaran bahasa Inggis.
Lama kemudian di zaman Republik kami lihat bahwa Perguruan Rakyat telah pindah lagi ke gedung di Salemba Raya no. 33 dekat rumah sakit St. Carolus, dimana kami beberapa kali diundang untuk upacara ini dan itu. Tetapi bagi kami yang sanagat mengharukan bahwa didepan sekali didekat jalan besar nampak dipasang suatu papan di aman di nyatakan dengan bangga bahwa tempat itu, meskipun agak tersembunyi dibelakang, ialah gedung Perguruan Rakyatyang didirikan pada 11 Desember 1928 atau sekarang 50 tahun yang lalu. Artinya bukan pergruan lain dari pada yang Saudara Arnold Mononutu dan kami dapat kenang-kenangan bersama (menurut pernyataan saudara A. Mononutu hanya kami berdualah dari pendiri-pendirinya yang sekarang masih hidup yang memang benar).
Maka sebagai penutup harus sangat di sayangkan bahwa Perguruan Rakyat karena keadaan memaksanya harus pindah lagi ke tempat lain (di Jalan Jenderal Sudirman). Moga-moga masih panajang umur Pergruuan Rakyat di bawah asuhan pimpinan dan guru-gurunya dalam mengabdi di bidang pendidikan bagi kemuliaan rakyat, bangsa dan Negara. Insya Allah !
Jakarta, 10 Oktober 1978.
PERGURUAN RAKYAT DAN MASYARAKAT Oleh Mr. WILOPO 1. Keadaan Sosial Ekonomi
Untuk menjelaskan kedudukan Perguruan Rakyat dalam masyarakat perlu di gambarkan lebih dulu faktor-faktor yang ,emdorong premarkarsa untuk mendirikannya 50 tahun yang lalu. Apa yang berkembang dibawah kekuasaan penjajah bangsa asing pada masa itu adalah kelanjutan proses yang nampak menyolok terutama sampai tahun 1900. Sesudah itu perkembangannya kelihatan lebih jelas lagi dengan tumbuhnya perusahaan-perusahaan besar modern berdasarkan sisitem liberal. Gagasan liberal sebagai atas telah menang atas gagasan konservatif dengan diterimanya amandemen terhadap U.U Belanda yang bersangkutan dengan sebutan AGRACISE WAT 1870. Yang perlu diketahui
NAMA-NAMA GURU YANG MENGAJAR Di PROL dan POP PERGRUAN RAKYAT TAHUN 1935 (Dari catatan Toeti Soetari semasa menjadi siswa disana)
NAMA GURU-GURU PROL : 1. Bahasa Indonesia : Engku Dachlan Lemabah Tuah 2. Bahasa Belanda : Prof. Arnold Mononutu, Eks Rektor UNHAS Ibu Sugondo, Eks ketua Parlmen NIT, Menteri Penerangan, Mr. Amir Sjarifudin, Eks Perdana Menteri. 3. Bahasa Inggris : Suyitno Supangat, Eks Wakil wali kota Jakarta Raya Sugondo Mr. Amir Sjarifuddin. 4. Bahasa Jerman : Suwirjo, wali kota I Jakarta Raya. 5. Bahasa Prancis : Rudolf Pantouw. 6. Sejarah Umum 7. Biologi : Achmad Sumadi 8. Menggambar 9. Sejarah Nasional : Mr. Samyono, Eks Menteri perburuhan. 10. Ilmu Bumi & Kosmografi : Drs. Abdul Gani, Eks Rektor IKIP Semarang. 11. Aljabar & Ilmu ukur : Tirto Supono Mr. Sahardjo, Eks Menteri kehakiman. 12. Ilmu Kimia/O.raga/Menggambar : Anta Permana.
NAMA GURU-GURU POP : 1. Bahasa & Kesusastraan Indonesia : Amir Hmazah Pujangga Baru A.K Gani, Eks Gubernur Sumatra Selatan. 2. Bahasa & Kesusastraan Belanda : Mr. Amir Sjarifudin, Sanusi Pane, Guru HIK Lembang Pujangga Baru. 3. Bahasa & Kesusastraan Inggris : Mr. Amir Sjarifudin, A. Latief Herdaningrat, Brigjen TNI Purn, Eks Rektor IKIP Jakarta. 4. Bahasa & Kesusastraan Jerman : Suwiryo, Mr. Djatmiko. 5. Bahasa Prancis : Mr. Amir Sjarifudin, Mr. St. Moh. Syah 6. Sejarah Nasional : Mr. Hindroharmatono. 7. Sejarah Umum : Sanusi Pane. 8. Sejarah Kebudayaan 9. Paedagogie & Sejarahnya 10. Psychologie & Karakterologie : Prof. Mr. Djokosoestono Martodipuro 11. Sosiologie (Ilmu Kemasyarakatan) 12. Methodiek : Anwar Mahayudin, Notaris. 13. Praktek Mengajar : Anwar Mahayudin. 14. Ekonomi : Mr.Soemanang. 15. Hukum Negeri : Mr.Soemanang. 16. Etnologie (ilmu bangsa-bangsa) : Prof. Mr. Djokosoestono Martodipuro. 17. Menggambar & Teori : Supandam, Diektur SMA. 18. Gymnastik & Teori : Supandam. 19. Hygnie (Ilmu Kesehatan) : Dr. Rochyat Dr. Sudarsono, PMI Dr. Muwardi 20. Ilmu Hitung : Mr. Wilopo
|






